
Cara Para Caleg Memikat Konstituen untuk Meraup Suara (5-Habis)
Kaltim Post, Minggu, 29 Maret 2009
Mendekati konstituen di daerah terpencil diyakini akan memberikan pengaruh pada perolehan suara. Demi menemui konstituennya, apapun dilakukan. Termasuk menggelontorkan uang miliaran rupiah. Namun ada juga caleg yang hanya menyambangi keluarganya karena alasan efisiensi.
SUARA yang disumbangkan setiap orang tidak melihat asal daerahnya, apakah ia tinggal di kota atau di tengah pulau yang sulit dijangkau. Itulah alasan Agus Tantomo, caleg dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk DPR RI dari daerah pemilihan Kaltim kenapa getol mendatangi lokasi-lokasi terpencil. Karena alasan ini pula, Agus rela menggelontorkan uang hingga lebih dari Rp 1 miliar untuk alasan akomodasi dan transportasi sebagai syarat pertemuan dengan konstituennya.
Selama 5 bulan terakhir, Agus sudah berkeliling Kaltim dan mendarat di beberapa pulau yang mungkin sangat jarang terdengar di telinga masyarakat Kaltim kebanyakan. Ia pernah mendatangi Pulau Tadutan yang masih dalam teritori Kutai Kartanegara (Kukar) di Kecamatan Muara Badak. Meski populasi penduduknya hanya ratusan orang, ia bersama tim menyambangi pulau kecil yang hanya bisa dijangkau dengan transportasi air.
Bukan hanya itu, gugusan pulau di sekitar Derawan seperti Pulau Maratua atau Pulau Panjang di Kabupaten Berau juga menjadi salah satu titik persinggahannya. Agus menilai, animo masyarakat di lokasi seperti ini sangat tinggi. Masalahnya dari mereka masih banyak yang belum mengetahui pelaksanaan Pemilu serta tata caranya. “Yang lebih pusing sebenarnya memberikan pengarahan bagaimana tata cara mencoblos yang sah.
Ternyata informasi dari KPU kepada masyarakat di daerah terpencil seperti itu masih sangat kecil. Kalau boleh dikatakan malah belum menjangkau, kecuali bagi pada perangkat desa dan calon petugas TPS,” ungkapnya. Agus menilai, kewajiban mendapatkan informasi seharusnya disamakan dengan hak sebagai warga negara lainnya. Namun ia tidak menepis jika KPU se-Kaltim terkendala dengan sosialisasi seperti ini. “Ya boleh berbangga, saya juga ikut andil membantu KPU sosialisasi,” ujarnya diselingi nada bercanda.
Mengenai metode pengerahan massa di lapangan, Agus tidak menampik hal itu perlu dilakukan. Tapi pertemuan secara langsung tidak harus dalam jumlah banyak. Ia pernah melakukan sosialisasi di hadapan 6 orang. Namun kuantitas yang bisa dihitung dengan jari dinilainya tidak mengurangi kualitas pertemuan. Hingga kini, Agus mencatat sudah 138 kali melakukan pertemuan dengan kelompok masyarakat dan menargetkan melakukannya hingga 150 kali. “Kalau sedikit tapi kualitasnya bagus, saya pikir akan lebih efektif.
Jumlah massa banyak memang penting, tapi tidak semua pertemuan harus dengan jumlah besar,” ujarnya. Hal senada ternyata juga menjadi pilihan Dahri Yasin yang maju sebagai caleg DPRD Kaltim dari Partai Golkar dapil Samarinda. Menurutnya, pertemuan dengan masyarakat dalam jumlah sedikit lebih mengena daripada harus mengumpulkannya di tengah lapangan.
Ia menganggap kualitas pertemuan lebih penting dari sekedar ingar bingar kampanye di lapangan. “Sembilan puluh sembilan persen yang saya lakukan pertemuan dari rumah ke rumah. Tapi kegiatan di lapangan juga sebenarnya perlu meski harus mengeluarkan biaya besar,” ujarnya. Hanya saja fenomena pengetahuan masyarakat di perkotaan seperti yang menjadi konstituen Dahri Yasin, juga sejalan dengan apa yang dialami Agus Tantomo.
Yaitu tingkat pengetahuan akan tata cara pemungutan suara yang sah. Meski persentasenya lebih kecil, masyarakat di perkotaan juga tidak semuanya memahami cara conteng dalam pemilu kali ini. “Ada beberapa yang menanyakan seperti apa pemungutan suara yang benar. Tapi justru yang bertanya adalah mereka yang sudah tahu, nah kesulitannya adalah kalau yang tidak menanya ternyata orang yang buta huruf, atau cacat fisik.
Ini yang kadang saya temui di lapangan,” urainya. Mengenai dana yang dikeluarkan selama kampanye, Dahri Yasin mengatakan tidak terlalu jor-joran. Karena di dapil Samarinda yang memiliki cakupan wilayah relatif sempit, ongkos yang paling banyak keluar ternyata untuk pos sosialisasi melalui baliho. Ditaksir pengeluarannya mencapai puluhan juta. “Paling banyak untuk baliho, kalau hitungan puluhan juta ya ada.
Tapi tidak sampai ratusan,” ujar Ketua DPC Golkar Samarinda ini. Tak berbeda dengan calon lain, caleg DPR RI Nomor 1 dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Yayan Aliansyah termasuk yang juga sibuk untuk sosialiasi. Ia menyadari dengan kemenangan caleg ditetapkan dengan sistem suara terbanyak, tentu caleg harus dikenal masyarakat. Bukan hanya menggunakan media massa, tetapi juga mendatangi masyarakat.
Termasuk memahamkan caranya menconteng yang benar. "Kalau soal pilihan, tentu menyangkut hati nurani. Semua kita serahkan ke masyarakat," kata mantan anggota DPRD Samarinda ini. Di usianya yang baru 41 tahun, Yayan memang bukan politikus kemarin sore. Soal keteguhan prinsip dan komitmen moral, ia sudah menunjukkannya dengan mundur dari DPRD.
Soal kesiapan pribadi sebagai caleg, terutama secara finansial, ditunjukkannya dengan punya sejumlah bisnis. "Sebagai pengusaha, saya mungkin akan memperoleh kemudahan dengan menjadi anggota Dewan karena akan banyak teman. Namun mencari materi bukanlah tujuan saya. Toh sebagai pengusaha, saya mampu hidup dengan baik," tegas pria yang beristrikan Sekretaris Camat Samarinda Utara dengan 1 putra ini.
Bagi Yayan, menjadi anggota DPR-RI adalah medan besar dari keinginannya berbuat lebih baik untuk Kaltim. Apalagi Yayan punya sejumlah alasan sehingga maju ke DPR RI dari PKB. Pertama, ia gelisah karena saat ini di Kaltim banyak persoalan yang perlu diperjuangkan di tingkat pusat, sementara anggota DPR-RI asal Kaltim tak menunjukkan greget.
Alasan kedua, tak berbeda dengan sejumlah Pemilu sebelumnya, kali ini pun, banyak caleg DPR-RI yang bukan orang Kaltim. “Catatan saya menunjukkan, dari 33 caleg DPR-RI di nomor urut satu, hanya 40 persen orang Kaltim,” katanya. Kalau Mahkamah Konstitusi tak mengeluarkan keputusan bahwa suara terbanyaklah yang terpilih, boleh jadi lagi-lagi yang bukan warga Kaltim-lah wakil provinsi ini di Senayan, Jakarta. “Bagaimana mereka mampu memperjuangkan kepentingan Kaltim, kalau mereka tak pernah merasakan persoalan di sini,” katanya.(*/obi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar